Oleh Syafaq Ahmar
Ramadan di Panggung Politik: Siapa Konsisten, Siapa Musiman?. Ramadan selalu jadi musim ramai bagi para tokoh. Masjid penuh. Safari politik dibungkus silaturahmi. Kamera merekam doa. Tapi publik hari ini tidak lagi melihat siapa paling sering muncul. Publik melihat siapa paling konsisten.
Di level nasional, Prabowo Subianto kini memikul tanggung jawab sebagai Presiden. Ramadan bukan sekadar momentum simbolik. Yang dinilai adalah stabilitas harga, keberanian membereskan korupsi, dan ketegasan menjaga arah negara. Jika kebijakan tegas berjalan, publik akan mengingatnya lebih lama daripada seribu kunjungan tarawih.
Gibran Rakabuming mewakili generasi muda di puncak kekuasaan. Ramadan menjadi ujian apakah ia hanya tampil komunikatif di media sosial, atau benar-benar punya gagasan konkret yang menyentuh anak muda dan UMKM yang sedang berjuang.
Di Jawa Barat, Dedi Mulyadi dikenal dekat dengan akar rumput. Ramadan memperkuat citra itu. Tapi kedekatan emosional harus dibarengi tata kelola yang kuat. Rakyat butuh pemimpin yang bukan hanya hadir, tapi juga membereskan sistem.
Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo sama-sama punya basis massa ideologis. Ramadan jadi ruang pembuktian bahwa narasi keadilan sosial dan keberpihakan pada wong cilik bukan sekadar retorika kampanye.
Sementara AHY membawa citra modern dan terdidik. Ramadan menguji apakah ia mampu tampil bukan hanya sebagai figur muda potensial, tapi sebagai negarawan yang matang.
Ramadan bukan panggung pencitraan. Ini bulan pengukuran. Siapa yang konsisten bekerja sebelum, selama, dan sesudah Ramadan, itulah yang akan dipilih rakyat pada 2029.

