Oleh Syafaq Ahmar
Malam itu ribuan orang memadati Lapangan Desa Tanjungpura, Rajapolah, Tasikmalaya. Mereka datang bukan sekadar untuk ceramah. Mereka datang untuk melihat bagaimana seorang gubernur hadir di bulan Ramadan.
Di atas panggung, Dedi Mulyadi berdampingan dengan Ahmad Muwafiq. Ulama dan umara. Duet yang jarang tampil tanpa makna simbolik.
Acara itu diberi tajuk neuleuman poekna peuting — menyelami gelapnya malam.
Dedi berbicara lugas. “Ngabagjakeun sarerea teu bisa, tapi minimal ngabageakeun nu loba,” katanya. Tidak bisa membahagiakan semua orang, tapi minimal membahagiakan yang banyak.
Ia mengakui setahun memimpin Jawa Barat tak mungkin tanpa kritik. Namun arah kebijakan, menurutnya, tetap pada kebutuhan dasar: infrastruktur dan kesehatan. Ia juga menyinggung soal korban TPPO yang dijemputnya. “Hade goreng ge anak kuring, rakyat Jawa Barat,” ucapnya.
Kalimat itu sederhana. Tapi terasa personal.
Sementara itu, Gus Muwafiq mengajak publik kembali pada makna puasa. Mengutip Al-Baqarah 183, ia menjelaskan puasa sudah ada sejak Nabi Adam. “Basic insting manusia itu makan dan syahwat,” katanya. Jika dua itu terkendali, manusia menjadi lebih baik.
Di titik ini, Safari Ramadan bukan hanya agenda seremonial. Ia menjadi panggung narasi: kepemimpinan yang ingin dekat secara emosional dan spiritual.
Pertanyaannya tinggal satu: apakah kedekatan seperti ini cukup untuk memperkuat legitimasi, atau publik menuntut lebih dari sekadar kehadiran dan kata-kata?
Di era ketika politik juga bermain di ruang batin, malam di Tasikmalaya itu terasa lebih dari sekadar pengajian.

