Dulu Hamparan Beton, Kini Hamparan Pohon

Date:

Ada yang perlahan berubah di kawasan Puncak. Tepatnya di lokasi eks Hibisc Fantasy yang dibongkar Kang Dedi Mulyadi.

Dulu orang datang ke sana melihat wahana dari beton. Sekarang Kang Dedi Mulyadi ingin orang kembali melihat pohon.

Perubahan itu memang belum selesai. Rumput masih banyak. Batu masih berserakan. Tanah bekas proyek masih terlihat luka di beberapa bagian. Tapi arah kebijakannya sudah mulai terasa jelas.

Eks kawasan Hibisc yang dulu ramai dipersoalkan karena pembangunan wisata di daerah resapan air, kini mulai ditata ulang menjadi kawasan penghijauan.

Dan terus terang saja, banyak orang sampai hari ini masih sulit memahami cara berpikir pejabat masa lalu yang bisa-bisanya membiarkan kawasan pegunungan yang seharusnya menjadi daerah serapan air malah diubah seperti arena wahana fantasi. Gue pribadi bilang, gak ada otaknya bikin wahana ala dunia fantasy di Puncak.

Gak ada otaknya, gunung diperlakukan seperti lahan kosong yang tinggal dicor seenak perutnya.

Padahal dari dulu orang sudah tahu, Puncak itu bukan sekadar tempat wisata. Ia adalah paru-paru. Ia penyangga air. Ia penahan banjir untuk wilayah bawah.

Tapi entah kenapa, dalam era kepempimpinan Gubernur sebelum KDM, logika pembangunan Jabar terasa aneh.

Semakin hijau sebuah kawasan, semakin besar godaan mengubahnya jadi beton. Semakin sejuk sebuah tempat, semakin cepat izin wisata keluar. Seolah-olah semua tempat indah harus selalu dijadikan proyek komersial.

Akibatnya mulai terasa sekarang. Banjir makin sering. Air meluap. Lereng mudah longsor. Sungai membawa lumpur dan sampah.

Karena itu langkah KDM di eks Hibisc terasa bukan sekadar proyek penghijauan biasa. Ada pesan simbolik yang kuat di sana.

Ia ingin menunjukkan bahwa kawasan yang dulu dipenuhi beton masih bisa dikembalikan menjadi hamparan pohon.

Makanya ketika datang ke lokasi, KDM tidak bicara dengan bahasa proyek besar. Ia justru sibuk mengatur hal-hal kecil: batu harus diangkat, rumput harus dibabat, pohon harus ditanam lagi, tenaga kerja harus ditambah supaya lahan cepat hijau.

Ia bahkan meminta ditanam pohon-pohon besar seperti lame dan samida di titik-titik kosong agar kawasan itu kembali hidup.

Yang menarik, KDM berkali-kali menegaskan bahwa pekerjaan itu bukan sekadar pekerjaan fisik. Ia menyebutnya ibadah.

Karena baginya, menanam pohon di kawasan hulu sama artinya menjaga kampung-kampung di bawah dari banjir.

“Membuat kebaikan lebih hebat daripada pidato tujuh jam,” katanya di tengah lokasi.

Kalimat itu sebenarnya sederhana. Tapi terasa seperti sindiran panjang terhadap cara pembangunan lama yang terlalu sibuk bicara investasi, tetapi lupa menghitung daya dukung alam.

Dan mungkin memang baru sekarang banyak orang sadar: membangun wahana hiburan di atas gunung itu bukan kemajuan. Kadang justru bentuk paling mahal dari kehilangan akal sehat tata ruang.

Andai saja semua pejabat di Indonesia cara berfikirnya seperti KDM, tentu negeri ini akan lestari.

Oleh Bang Enyoi | Save Jabar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

HAM, Makan atau Pendidikan?

Oleh Syafaq Ahmar Hak asasi manusia sering terdengar megah di...

Safari Ramadan dan Kepemimpinan

Oleh Syafaq Ahmar Malam itu ribuan orang memadati Lapangan Desa...

Sanggabuana, Danantara Versi Jabar

Oleh Syafaq Ahmar Nama itu tidak terdengar teknokratis. Tidak pula korporatis. Sanggabuana. Itulah...

KDM dan Politik Digital

Oleh Syafaq Ahmar Riset Deep Intelligence Research (DIR) mencatat satu...