Setiap kali banjir datang, pertanyaannya selalu sama. Kenapa ini terus terjadi? Kenapa air tidak lagi punya tempat? Kenapa solusi terasa berulang, tapi hasilnya nihil?
Air yang naik sebenarnya bukan peristiwa mendadak. Ia adalah akumulasi keputusan bertahun-tahun. Dari izin yang diterbitkan pelan-pelan, dari sungai yang dibiarkan menyempit, dari rawa yang dianggap lahan kosong, bukan penyangga ekosistem.
Data curah hujan memang penting, tapi bukan satu-satunya variabel. Banyak wilayah dengan curah hujan tinggi tidak selalu banjir. Sebaliknya, kawasan yang daya tampung lingkungannya rusak justru banjir meski hujan tidak ekstrem. Artinya, persoalan utama bukan di langit, melainkan di darat.
Pertanyaan lama itu muncul karena akar masalahnya tidak pernah benar-benar disentuh. Normalisasi sungai dilakukan, tapi bangunan di sempadan tetap ada. Drainase dibangun, tapi air hujan diarahkan secepat mungkin ke hilir tanpa ruang resapan. Rencana tata ruang disusun, tapi dilanggar lewat pengecualian demi investasi.
Yang jarang dibahas adalah keberanian mengambil keputusan tidak populer. Menolak izin di zona rawan. Mengembalikan fungsi lahan, meski berarti membatalkan proyek. Menertibkan bangunan, meski risikonya politis.
Banjir sebetulnya bukan sekadar bencana alam. Ia adalah cermin tata kelola. Ketika air naik, yang mengapung bukan hanya genangan, tapi juga pertanyaan tentang siapa yang mengalah dan siapa yang diuntungkan.
Selama pertanyaan itu hanya dijawab dengan tambal sulam, air akan terus datang membawa pertanyaan yang sama—tahun demi tahun.

